HP, KEBUTUHAN ATAU KECANDUAN


Di zaman sekarang ini semua orang membutuhkan HP untuk segala urusan. Tetapi HP dapat di ibaratkan sebagai pisau bermata 2, HP jika di gunakan dengan jujur dan benar maka kita akan sangat terbantu dengan kehadirannya, tetapi jika digunakan untuk hal yang tidak penting maka kita akan sangat di rugikan karenanya. Di masa pandemi Covid-19 tahun 2020 pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah yang membuat para murid diharuskan mempunyai HP. Termasuk aku yang seorang pelajar juga diharuskan mempunyai HP untuk belajar daring. Di tahun 2020 aku lulus dari MI dan melanjutkan sekolahku ke MTsN 10 Sleman. Tahun itu aku masuk ke kelas 7 dan di belikan HP oleh orangtuaku untuk kegiatan belajar mengajar daring. Saat itu aku senang sekali, karena di berikan HP oleh orangtuaku. Aku mengawali kelas 7 dengan hasil yang memuaskan, aku mendapat peringkat 3 besar di kelas ku. Pada semester ke 2 aku mendapatkan hasil yang sama saat di semester 1 mendapat posisi 3 besar di kelas. Tak terasa kelas 7 dilalui sangat cepat, aku pun naik kelas 8. Di semester 3 sekolah masih menggunakan sistem daring dan dilaksanakan di rumah. Di semester 3 juga aku sudah mengenal yang namanya sosmed, sosmed ada beragam seperti You Tube, Instagram, Tik Tok, dan lain lain. Mulai saat itu aku lebih banyak memegang HP daripada mengurus hal hal yang lainnya, tetapi alhamdulillah dalam urusan agama masih aku kerjakan tepat waktu. Tetapi pada semester 3 itu aku mengalami penurunan nilai yang cukup banyak, aku pun menduduki peringkat 5 di semester 3. Saat itu aku merasa menyesal karena menurunnya nilai ku. Di semester ke 4 aku berusaha untuk belajar lebih giat lagi. Tetapi di sisi lain aku ingin sekali bermain game, walau aku tahu ibu ku tidak membolehkan aku bermain game tapi aku berharap aku bisa bermain game. Lalu ada teman satu desa ku yang mengajak ku bermain game online, aku pun tertarik dan memainkannya bersama temanku. Lalu tanpa ku sadari aku kecanduan bermain game itu, lalu aku nekat menginstal nya di HP yang di belikan orangtuaku tanpa sepengetahuannya. Aku pun diam diam memainkannya dengan alasan mengerjakan tugas. Aku tahu itu salah tapi karena aku sudah kecanduan aku pun nekat melakukannya, walau di larang oleh orangtuaku. Hari demi hari berlalu dengan aku yang semakin kecanduan dengan game itu, ibu ku pun mulai curiga karena ada yang aneh dengan ku. Aku beralasan tugas yang aku kerjakan diharuskan menggunakan HP, walau aku tahu itu salah tapi karena kecanduan aku pun menganggap berbohong menjadi hal yang lumrah. Hingga suatu hari ibu ku berhasil memergoki ku saat sedang bermain game, aku pun Takut sekaligus menyesal dengan hal yang ku lakukan. Walau aku kecanduan untungnya aku masih rajin mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan tepat waktu. Tetapi aku masih menyesal karena mengecewakan orangtuaku karena berbohong kepada mereka. Sejak saat itu aku mencoba menggunakan HP seminimal mungkin karena sudah mendekati kelas 9, tapi tetap saja susah karena sudah kecanduan. Aku masih imgin bermain game, tetapi ibu ku melarang ku, lalu teman ku menyarankan aku untuk membatasi waktu bermain game, pasti di bolehkan oleh orangtuaku. Lalu aku mengikuti saran yang di berikan temanku, dan akhirnnya aku dibolehkan oleh orangtuaku untuk bermain game, tetapi dengan batas hanya setiap hari libur dan saat liburan saja. Dengan kesepakatan itu aku merasa senang karena di bolehkan oleh orangtuaku, tetapi juga di barengi dengan belajar. Dan hari kenaikan kelas pun tiba, saat kenaikan kelas nilai rapot ku turun drastis karena kecanduan HP, aku pun turun dari peringkat 5 ke peringkat 12. Aku sangat menyesal karena kecanduan HP, di kelas 9 ini aku ingin memperbaiki nilai ku dan semoga keinginan itu tercapai.


“gunakanlah HP dengan bijak, jangan sampai kau di perbudak HP dan menyesal di kemudian hari”

Komentar